Mengembalikan Jati Diri Bangsa Bagian 2




Melanjutkan tulisan "Mengembalikan Jati Diri Bangsa" bagian pertama, berikut adalah langkah konkret pertama yang mungkin kita, para individu anak bangsa, bisa ambil dalam mengembalikan jati diri kita sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat. Bukan sebuah ...

... impoverished country prone with disasters. Seperti stigma yang melekat pada kita dari dunia luar.

Tetapi, memang pada kenyataannya, tidak peduli betapa besarnya potensi yang kita punya, tanpa pemahaman yang benar akan rahasia hidup sukses, maka stigma ... negara miskin rentan bencana (kemalangan atau masalah)... tersebut memang akan terus melekat entah sampai kapan.

Untuk itulah, mengembalikan jati diri bangsa tidak bisa hanya berhenti pada slogan, kampanye, wacana ataupun lomba SEO semacam ini.

Mengembalikan jati diri bangsa, haruslah dengan menawarkan langkah-langkah konkret dan praktis yang bisa ditempuh oleh semua anak bangsa ini untuk memperbaiki kualitas kehidupan mereka.

Kita mengubah bangsa dari unsur-unsur terkecilnya, yaitu individu-individu warga negaranya, satu demi satu.

Mengembalikan jati diri bangsa hanya bisa dilakukan bila kita bisa mengembalikan jati diri masing-masing warga negara.

Jadi mari kita mulai dengan langkah pertama yang saya yakin harus kita tempuh bila hendak mengembalikan jati diri bangsa kita ini, yaitu langkah untuk bisa menyadari bagaimanakah sebenarnya jati diri bangsa kita itu? Apa potensi bangsa ini? Dsb.

Seperti isi tulisan saya sebelumnya, kita manusia Indonesia, adalah "GAJAH". Makhluk darat dengan potensi kekuatan yang luar biasa. Tetapi sayangnya, potensi luar biasa tersebut tidak disadari oleh si gajah sendiri karena sedari kecil mereka telah tumbuh besar di bawah pengaruh pola pelatihan yang salah. Pola pelatihan yang mengikat kaki-kaki mereka dengan rantai.

Tidak seekor gajahpun yang telah dilatih seperti ini yang berani mendobrak rantai kecil di kaki mereka tersebut, karena ketakutan mereka akan hal yang sebenarnya tidak ada. (Anda bisa membaca lagi tentang the invisible chain yang berubah menjadi the invincible chain bagi para gajah sirkus ini di sini.)

Karena itu, jelas langkah pertama untuk memutuskan rantai ini adalah dengan mengekspos para gajah pada latihan sebaliknya. Mentraining ulang mereka.

Ya, pelatihan ULANG gajah, ini adalah langkah pertama untuk mendobrak rantai dan mengembalikan jati diri bangsa mereka sebagai bangsa gajah.

Pelatihan yang bagaimana? Pelatihan sukses yang menyadarkan akan potensi luar biasa para gajah, akan jati diri mereka sebagai binatang bebas, bukan binatang kurungan.

Memakai analogi ini, maka bangsa Indonesia juga harus mengalami pelatihan ulang untuk memahami jati diri bangsa mereka sebagai sebuah bangsa yang besar, bukan bangsa lemah, semrawut, melempem dan saling gontok-gontokan sendiri.

Pelatihan Ulang Penyadaran Jati Diri Bangsa

Noah St. John, dalam bukunya "The Secret Code of Success", menawarkan suatu bentuk masyarakat yang kondusif untuk tujuan ini. Masyarakat di mana setiap anggotanya bisa menyadari sepenuhnya potensi luar biasa mereka dengan bantuan anggota masyarakat lainnya. Untuk itu, semua anggotanya harus saling menjadi "LOVING MIRROR" bagi sesama mereka.

Menurut Noah St. John yang jenius ini, pada dasarnya semua manusia adalah 'gajah' yang tidak mampu melihat kemampuan mereka sendiri, apapun penyebabnya. Fenomena ini dia analogikan dengan kemampuan manusia untuk melihat warna mata mereka sendiri.

Kita tidak akan mampu melihat warna mata kita sendiri, kecuali kita mengaca.

cermin aneh
Funny Mirror

Ini akan menimbulkan masalah, bila yang kita gunakan untuk berkaca tersebut adalah kaca yang tidak "obyektif" memantulkan bayangan kita sebagaimana aslinya, seperti kaca yang terdapat di taman ria (taman hiburan), di mana bayangan kita terdistorsi sedemikian rupa sehingga kita bisa tampak jauh lebih bulat, lebih pendek, badan meliuk-liuk dsb. (cermin yang kita sebut sebagai "funny mirror").

Nah, dalam kehidupan seorang manusia, pengalaman masa kecil yang salah, yang tidak memupuk rasa percaya diri mereka, pendidikan yang salah, yang tidak menghargai kelebihan unik mereka, pengalaman hidup yang pahit dan menyakitkan, lingkungan yang tidak bersahabat, penuh persaingan, intrik dan konflik, pandangan-pandangan orang lain yang melecehkan, merendahkan atau yang sekedar meragukan, ini semua adalah merupakan "funny mirror" kita, yang mendistorsikan kondisi, potensi atau kemampuan kita sebenarnya.

Jadi, terbayangkan bagaimana kalau kita besar di lingkungan yang selalu mengatakan bahwa kita bodoh, bebal, pembawa sial, beban bagi orang tua, anak durhaka, lalu selalu dibandingkan dengan anak lain, "Coba lihat anak itu, pintar sekali dia, kamu itu bisanya apa, sih?" dan sebagainya, maka bagaimana mungkin kita tahu bahwa kita (sebenarnya) tidaklah bebal?

Bila seumur hidup kita bertemu orang-orang yang entah apa motivasinya mengatakan pada kita bahwa mata kita berwarna biru, sementara kita tidak punya alat lain untuk mengecek kebenarannya, maka mungkinkan kita bisa tahu warna mata kita yang sebenarnya?

Ya, bila seumur hidup kita hanya bisa mengaca pada "funny mirror", maka bukankah akan sulit untuk tidak berpikir bahwa kita jelek, sementara bayangan yang kita lihat di cermin tersebut selalu jelek?

Jadi masalah banyak sekali manusia yang membuat mereka tidak bisa sesukses potensi yang mereka miliki bukanlah karena mereka tidak memiliki kepercayaan diri akan kemampuan mereka, tetapi karena mereka tidak mengetahui adanya kemampuan tersebut dalam diri mereka.



LOVING MIRROR

Manusia, kita semua, untuk bisa menyadari jati diri kita sebagai ciptaan Sang Khalik dengan potensi yang luar biasa, akan memerlukan apa yang disebut Noah St. John sebagai "the LOVING MIRROR" (atau "Cermin yang Penyayang"). Yaitu, seseorang atau suatu sistem yang memberi kita gambaran yang sesungguhnya, yang obyektif dan akurat akan kemampuan kita. Kalaupun kita memiliki kelemahan, maka Loving Mirror ini akan tetap menonjolkan sisi-sisi positif dan kelebihan kita, dan kemudian memberi solusi bagaimana mengatasi kekurangan yang ada.

Lebih dari itu, "LOVING MIRROR" ini juga akan membangkitkan rasa percaya diri kita dengan cara lebih dahulu menunjukkan rasa percaya mereka terhadap kita.

Para LOVING MIRROR ini memliki kepercayaan pada kita, menunjukkan betapa besar potensi kita, membangkitkan semangat dan motivasi kita, selalu mendukung dan menemani bila kita mulai merasa gundah, mendorong kita bila kita serasa hendak menyerah, dsb.

Singkatnya, para Loving Mirror ini akan bisa menaruh kepercayaan mereka pada kemampuan kita, bahkan sebelum kita sendiri memiliki rasa percaya diri akan kemampuan sendiri.

Ini, menurut St. John, adalah satu kunci sukses paling penting bagi begitu banyak manusia sukses di dunia, yaitu adanya orang-orang yang tiada henti mempercayai mereka, meski seluruh isi dunia berbalik melawan mereka, meski diri mereka sendiri sudah mulai dilanda keraguan.

Pada esensinya semua manusia memerlukan Loving Mirror ini untuk bisa sukses dalam kehidupan mereka.

Loving Mirror ini bisa orang tua kita, sahabat kita, guru kita, kolega kita, atasan kita, pasangan hidup kita, anak-anak kita, kerabat dan anggota keluarga kita lainnya, atau siapa saja yang peduli.

Siapa saja bisa menjadi Loving Mirror kita, dan kita juga bisa menjadi "Loving Mirror" bagi siapa saja, tetapi yang jelas semua manusia membutuhkan Loving Mirror dalam kehidupan mereka.

Ya, masing-masing unsur bangsa ini memerlukan "LOVING MIRROR" tersebut untuk bisa menyadari jati diri bangsa.

CONTOH SUKSES KARENA LOVING MIRROR

Saya bekerja dengan banyak ekspatriat (pekerja asing). Dahulu, saya sering merasa rendah diri terhadap mereka, karena mereka yang bekerja di sekitar saya kebetulan adalah memang manusia-manusia luar biasa. Sangat profesional, sangat terampil, sangat kompeten, sangat berdedikasi, sangat manusiawi (menghargai, menghormati dan menyayangi manusia lain), dan tentu saja bergaji sangat tinggi.

Ya, dengan beragam faktor dari masa lalu saya, saya sudah terbiasa dengan gambaran "Funny Mirror" diri saya. Saya tidak melihat bahwa di dalam diri saya juga ada unsur-unsur kompetensi seperti yang saya kagumi dalam diri para ekspatriat tersebut. Saya belum pernah bertemu seorangpun yang mengatakan bahwa warna mata saya lain dari yang selama ini saya yakini.

Saya belum pernah bertemu dengan seseorang atau suatu sistem kerja di negara ini yang menghargai saya sama seperti mereka menghargai para pekerja asing tersebut. Gaji dibedakan, kepercayaan dibedakan, perlakuan dibedakan, fasilitas dibedakan, dsb.

Sehingga, saya tidak tahu bahwa saya juga bisa seperti mereka.

Akhirnya, saya pasrah saja menghabiskan tahun pertama kerja saya dengan menerima saja digaji hanya 1/10 dari gaji yang diterima para ekspat (untuk setiap 2 juta gaji saya, mereka menerima 20 juta). Sungguh perbedaan yang sangat kontras bukan? Tetapi saya merasa itu bukan masalah, karena saya pikir itu memang sebuah kewajaran karena keahlian mereka yang tinggi, dan karena sistem memang mengatur begitu.

Ini berlangsung sampai saya bertemu dengan seorang ekspat istimewa yang kemudian menjadi sahabat dan "LOVING MIRROR" saya.

Dia adalah rekan mengajar saya. Tetapi, saya selalu memandang diri saya hanya sebagai seorang asisten di kelas, karena pelajaran Bahasa Inggris, menurut saya, wajarlah kalau diajarkan oleh seorang guru ekspat sebagai penutur asli bahasa tersebut. Sebagai guru Bahasa Inggris warga negara Indonesia, saya yakin saya kalah jauh dalam ilmu dan kemampuan dibandingkan dia.

Setiap kali menyiapkan "lesson plan", saya selalu minta dia memeriksanya, karena saya tidak yakin. Setiap ada materi baru, saya bertanya padanya karena tidak yakin. Setiap kali giliran saya yang menjelaskan materi, saya minta dia meninggalkan ruangan karena saya tidak percaya diri mengajar di depannya.

Sampai suatu hari, dia menolak meninggalkan kelas dan memaksa untuk "menonton" saya mengajar. Jadilah saya mengajar dengan cucuran keringat dingin dan bahasa yang menurut saya salah semua alias amburadul, karena gugup dan tidak percaya diri.

Tetapi apa yang dikatakan rekan saya tersebut sesudah pelajaran itu usai? Dia mengatakan, "I knew it, Astuti. I knew it. You are a very natural teacher. And your English is flawless. I don't understand why you've never let me see you teach. I can learn a lot from you."

Artinya, (mohon maaf, hanya bagi yang tidak paham), "Aku sudah menduganya. Aku sudah tahu. Kamu itu guru yang sangat bagus, sangat alami. Kamu berbakat jadi guru. Bahasa Inggrismu juga sempurna. Jadi aku nggak ngerti kenapa kamu nggak pernah ijini aku melihatmu mengajar selama ini. Aku bisa belajar banyak dari kamu."

Anda pasti bisa menebak apa reaksi saya. Ya, betul, tentu saja, saya tidak percaya apa yang dikatakannya.

Lebih tepatnya, saya tidak yakin akan kemampuan saya sendiri, sehingga saya tidak percaya bahwa apa yang dikatakannya tadi adalah sebuah kebenaran.

Saya yakin sekali dia hanya berbasa-basi saja. Bermanis-manis karena kami berteman.

Bertahun-tahun orang berlomba menunjukkan betapa banyak ketidak-kompetenan saya. Bertahun-tahun, orang mengatakan saya bermata biru, jadi ketika sekarang ada satu orang yang mengatakan saya bermata coklat. Ya, jelaslah saya tidak percaya.

Tetapi teaching partner saya ini tidak berhenti percaya terhadap saya. Dan kepercayaannya terhadap kemampuan saya tidak berhenti pada kata-kata.

Dia terus menunjukkan hal-hal bagus yang berhasil saya capai. Dia menyuarakan aspirasi perbaikan gaji guru lokal yang menurutnya tidak kalah kompeten dengan guru ekspatriat. Dia terus memberi saya kepercayaan dengan melimpahkan tugas-tugas yang makin menantang pada saya. Bahkan, berkat perjuangannya pula, saya kemudian menjadi guru Indonesia pertama yang diijinkan mengajar Bahasa Inggris tanpa didampingi seorang English Native Speaker di sekolah saya. Sebuah terobosan baru.

Hanya butuh waktu dua tahun dipercaya oleh seorang yang lain, untuk saya bisa menemukan kepercayaan kepada diri saya sendiri.

Ketika dia kembali ke negaranya, saya sudah bisa percaya diri sepenuhnya walau tanpa dampingan "LOVING MIRROR" saya ini.

Saya percaya diri mengajukan nama untuk suatu promosi jabatan.

Saya percaya diri meminta kenaikan gaji yang memang saya tahu saya layak dapatkan.

Saya percaya diri mengajukan diri untuk tugas-tugas yang makin sulit dan menantang.

Semua karena sekarang saya tahu potensi saya bukanlah pas-pasan saja.

Ada seorang yang menghargai diri saya, sehingga saya kemudian juga memandang diri saya sendiri dengan penghargaan yang semestinya.

Ada orang yang meyakinkan saya bahwa saya bisa, maka kemudian saya menjadi yakin bahwa benar saya bisa.

Sebuah kepercayaan diri yang kemudian berkembang dengan kepercayaan diri saya akan kemampuan saya di bidang-bidang lain juga.

Dan, karena saya percaya diri dan menyadari kemampuan diri saya sendiri, maka orang lainpun pada gilirannya kemudian jadi mempercayai dan menghargai kemampuan saya.

jati diri bangsa

Ya, pembaca, inilah langkah pertama yang bisa dilakukan oleh seluruh anak bangsa ini terhadap saudara setanah-airnya bila hendak mengembalikan jati diri bangsa ini sebagai bangsa berpotensi tinggi.

Yaitu, saling menjadi the "LOVING MIRROR" bagi sesamanya, saling mempercayai, mendukung, menghargai dan menyayangi.

Kita memang perlu belajar dari kesalahan, tetapi ini haruslah seimbang dengan pemahaman kita akan potensi baik kita.

Harus ada orang yang tidak saja menunjukkan kesalahan kita, tetapi juga menunjukkan semua kelebihan kita, kemampuan kita, bakat kita, potensi kita, kehandalan kita, kebaikan kita.

Harus ada orang yang mempercayai kita setulus hati, bahwa kita layak mendapatkan semua yang bisa didapatkan oleh bangsa lain yang lebih maju:

  • kita semua layak mendapat UMR yang besar.
  • kita pasti bisa berkarir di bidang yang kita inginkan dan kuasai, tidak harus selalu menjadi pegawai negeri.
  • kita semua layak dipercaya, karena salah satu jati diri bangsa kita adalah bangsa yang beriman.
  • kita layak bersuara walaupun suara kita berbeda, karena pendapat kitapun berarti.
  • kita semua bisa menikmati kehidupan yang sukses dalam hidup ini.
  • kita tidak harus menjadi kuli.
  • kemampuan kita sama bagusnya dengan bangsa manapun lainnya selama kita selalu asah itu.
  • kita semua berhak mendapatkan perlakuan yang adil dan perlindungan yang tidak diskriminatif dari siapapun.
  • dan sebagainya.


Kunci Sukses Meminta yang Terbaik

Karena itu pula, SuksesTotal.com mengajarkan semua manusia Indonesia yang ingin sukses dalam hidupnya, untuk meminta hal-hal yang positif, yang terbaik, kepada Tuhan, serta berprasangka baik pada Tuhan. Ini karena SuksesTotal.com memiliki keyakinan yang besar akan potensi terbaik dari semua anak bangsa ini.

SuksesTotal.com ingin menjadi "the LOVING MIRROR" bagi semua anak bangsa yang ingin mengembalikan jati diri bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan sukses dengan mengajarkan mereka untuk meminta semacam ini:

  • Aku menikmati kesuksesan dalam semua aspek kehidupanku. (Ya, pembaca semua, saya percaya Anda bisa dan layak mendapatkan kesuksesan dalam hidup Anda).
  • Aku bahagia dan bersyukur dengan kehidupanku. (Ya, pembaca, Anda berhak mendapatkan kehidupan yang terbaik, siapapun Anda).
  • Aku menjalani karir yang cemerlang dan bermanfaat. (Ya, pembaca, Anda semua memiliki kemampuan untuk mendapatkan karir impian Anda ini. Apapun yang Anda pilih, Anda bisa bersinar di sana dan membawa manfaat untuk siapa saja).
  • Aku mendapatkan penghasilan yang besar, layak dan bisa diandalkan. (Ya, pembaca, pendapatan besar adalah juga hak Anda mengingat potensi Anda yang sedemikian rupa.)
  • dan sebagainya.



Sebuah Motivasi

Untuk semakin membangkitkan motivasi kita mengembalikan jati diri bangsa, bangsa yang besar, bermartabat dan berperadaban tinggi, mari saya kutipkan sebuah kata mutiara dari koleksi kata mutiara sukses terbaik kami.

Kata mutiara yang dengan indah menggambarkan bahwa potensi manusia memang berbeda-beda, ada yang digariskan menjadi petani, pedagang, guru, ibu rumah tangga, insinyur, penulis, blogger, artis, menteri, politisi, ulama, penyanyi, pemusik, ilmuwan, dokter dan sebagainya. Tetapi apapun itu yang menjadi garis bakat seseorang, dia hendaknya percaya bahwa dia mampu menjadi yang terbaik di situ, menjadi apapun dia...

line

penyapu jalanan yang bahagia

moon and sun     If a man is called to be a street sweeper, he should sweep streets as Michelangelo painted, or Beethoven composed music, or Shakespeare wrote poetry. He should sweep streets so well that all the hosts of heaven and earth will pause to say, here lived a great street sweeper who did his job well.

Seandainya pun seorang manusia ditakdirkan untuk menjadi seorang tukang sapu jalan, hendaknya dia menyapu jalan sesempurna Michelangelo ketika melukis, seindah Bethoven ketika menciptakan musiknya, dan seagung Shakespeare ketika menuliskan puisi-puisinya.

Dia harus menyapu jalanan dengan begitu baiknya, dengan segenap kemampuannya, sehingga semua yang di langit dan di bumi ini ibaratnya terhenti sejenak untuk mengagumi dedikasi dan karyanya. "Di sana ada seorang tukang sapu yang mengerjakan semua pekerjaannya dengan luar biasa baik."

~  M artin Luther King  ~

line

Jadi, mari kita lihat sekeliling kita. Adakah orang-orang yang membutuhkan "support" kita, dukungan dan kepercayaan dari kita, untuk bisa lebih percaya diri menggapai kemajuan dalam hidupnya? Saya yakin jawabannya adalah ada, ada banyak sekali.

Karena itu, mari kita menunaikan tugas sosial ini bersama-sama, saling menjadi "Cermin yang Penyayang" terhadap sesama, saudara sebangsa setanah air ini, demi mengembalikan jati diri bangsa kita yang besar.

Kita mulai dengan "mendukung" satu orang saja untuk mencapai potensi terbaik mereka, maka bisa dikatakan kita sudah menjadi katalis efek riak/gelombang kesuksesan untuk bangsa ini (the Ripple Effect of Success for the whole nation).

Oh ya, menyadari potensi diri ini juga langkah awal untuk membuka pintu kekayaan yang kita cari. Lebih jelasnya bisa Anda baca di Kunci Pembuka Kekayaan ini.

Selamat berjuang dan salam sukses selalu,


astuti's signature

send this page to a friend


New! Komentar

   orang telah memberi komentar. Sekarang giliran Anda.

Return to top




Return to top


©SuksesTotal.com: 2009. Hak Cipta Dilindungi Undang-undang.


Copyright Notice:

Hak cipta semua materi/tulisan dalam website ini adalah
milik: Sri Astuti , Copyright © 2009-2019,
(atau penulis lain yang tertera dalam byline, bila ada),
dan karenanya tidak boleh dikutip, disadur, diperbanyak,
dimuat di tempat lain, atau sejenisnya, dengan segala cara
tanpa ijin dari penulis.
All rights reserved.


copyscape

Hot Articles

Hot News

  • Unique Visitors dari Agustus 09:

Misi Sukses

  • Bila Anda menemukan manfaat di website ini, pertimbangkan untuk memberi donasi. Tidak ada jumlah yang terlalu kecil untuk sebuah pemberian.

    Untuk transfer bank dalam negeri, klik di sini.

    Atau gunakan tombol PAYPAL yang praktis, cepat & aman ini.

    Terima kasih atas semua dukungan Anda.


Bergabung

  • Dapatkan, GRATIS, 7 BAB PERTAMA buku Manual Lengkap Sukses Total, FREE !!!:
    Email

    Name

    Then


    Your e-mail address is totally secure.
    I use it only to send you "SUCCESS Ezine".